<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Super Parenting Indonesia</title>
	<atom:link href="http://indoparenting.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indoparenting.wordpress.com</link>
	<description>Bagaimana menjadi Orangtua yang bermanfaat bagi Anak</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 May 2011 10:08:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='indoparenting.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Super Parenting Indonesia</title>
		<link>http://indoparenting.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://indoparenting.wordpress.com/osd.xml" title="Super Parenting Indonesia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://indoparenting.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #8 &#8211; Kisah Tulisan Jelek Sang Murid &#8211; Perceptual Positions</title>
		<link>http://indoparenting.wordpress.com/2008/08/18/nlp-for-parenting-8-kisah-tulisan-jelek-sang-murid-perceptual-positions/</link>
		<comments>http://indoparenting.wordpress.com/2008/08/18/nlp-for-parenting-8-kisah-tulisan-jelek-sang-murid-perceptual-positions/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Aug 2008 08:42:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[NLP]]></category>
		<category><![CDATA[Perceptual positions]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indoparenting.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Waktu itu sedang dibagikan PR oleh Ibu Guru Sarina yang cantik. Suasana kelas VI B pun hening dan tertib. Masing-masing anak bergantian maju ke depan kelas mengambil buku PR mereka. Tiba-tiba Ibu Guru Sarina berkata,&#8221;Ini buku siapa, ya? Oh, bukunya Riska. Aduh, Riska tulisan kamu kok jelek amat, ya? Anak laki-laki saja tulisannya lebih bagus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=62&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu itu sedang dibagikan PR oleh Ibu Guru Sarina yang cantik. Suasana kelas VI B pun hening dan tertib. Masing-masing anak bergantian maju ke depan kelas mengambil buku PR mereka.</p>
<p>Tiba-tiba Ibu Guru Sarina berkata,&#8221;Ini buku siapa, ya? Oh, bukunya Riska. Aduh, Riska tulisan kamu kok jelek amat, ya? Anak laki-laki saja tulisannya lebih bagus dari kamu. Masa tulisan kamu seperti ini? Coba diusahakan menulis lebih bagus dari ini.&#8221; Sejenak terdengar tawa kecil dari beberapa temannya.</p>
<p>Riska yang diam-diam mengidolakan ibu gurunya yang pintar, cantik dan anggun itu tersentak kaget. Sejenak kepalanya jadi berkunang-kunang dan butir-butir peluh mengalir deras dari dahinya. Berpuluh-puluh pertanyaan berputar-putar di atas kepalanya yang pening seketika begitu mendengar komentar lantang Bu Guru Sarina di depan kelas.</p>
<p>&#8220;Kok, Ibu Sarina tega bicara keras-keras begitu di depan semua teman-temanku. Mengapa ia tidak diam-diam memberitahukan padaku sepulang sekolah, ketika teman-teman lain sudah tidak ada?”<br />
&#8220;Kok, baru sekarang sesudah tahun kedua belajar, Ibu Sarina menyadari bentuk tulisanku&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Kenapa tulisanku begitu jelek? Apa yang harus kulakukan supaya tulisanku bagus?&#8221;<br />
&#8220;Mengapa anak lain semua tulisannya bagus-bagus, buktinya dari 50 anak kelas ini hanya aku yg disebutkan keras-keras di depan kelas&#8230;&#8221;<span id="more-62"></span></p>
<p>Sekilas dari sudut matanya melihat beberapa anak sepertinya sedang menertawakan dirinya. Seluruh sisa pelajaran hari itu sudah tidak terdengar lagi di telinga kecil Riska. Ketika akhirnya bel pulang sekolah berbunyi dan doa pulang selesai diucapkan, Riska bergegas keluar dari ruang kelas.</p>
<p>Sepanjang perjalanan pulang, ia merasa amat sedih dan berkecil hati. Wajah Ibu Guru Sarina yang begitu ia idolakan dan teman-teman sekelas yang mencibir di kepalanya berganti-ganti memenuhi kepalanya.</p>
<p>Setiba di rumah, ia segera melesat naik ke kamarnya dan duduk di meja belajar kecilnya. Lalu, menarik sebuah buku. Entah di buku bekas apa, ia mulai menulis di halaman belakang itu. Ia menulis apa saja yang bisa ia tulis dengan sebaik-baiknya dan serapi-rapinya. Tapi apa daya, tulisannya tetap saja tidak bisa seindah tulisan Merina yang indah ataupun Glenn yang begitu rapi dan teratur. Karena sangat marah dan kecewa, Riska mencoret-coret seluruh tulisan tangan yang sudah dilatihnya tadi sambil terus menangis.</p>
<p>Tidak pernah ia ketahui; mungkin juga Ibu Sarina, bahwa bentuk tulisan tangan seseorang merupakan ciri dari orang tersebut dan sangat khas. Sulit sekali untuk merubahnya lagi jika sudah terbentuk.</p>
<p>Yang ia tahu, ia merasa bersalah atas tulisannya yang jelek. Ia begitu kecewa, marah dan membenci dirinya sendiri. Juga Ibu Sarina; ibu guru yang selalu dihormati dan diidolakannya.</p>
<p><strong>Perceptul Positions : Kunci memahami orang lain</strong></p>
<p>Kisah di atas bukanlah sebuah cerita rekaan melainkan sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi puluhan tahun yang lalu terhadap orang yang sangat saya kenal. Dan kisah-kisah yang mirip seperti ini masih saja terjadi hingga hari ini dan terus melukai perasaan banyak anak di seluruh negeri ini. Akibat dari perasaan luka tersebut dapat terbawa hingga dewasa dan boleh menjadi sebuah believed system bagi dirinya. Dapat menjadi believed system yang bermanfaat atau malah menjadi sesuatu yang mensabotase dirinya untuk maju.</p>
<p>Selaku orangtua, kadang kita ingin melindungi ataupun memberikan yang terbaik bagi putera-puteri tercinta, hanya sayangnya maksud yang baik tersebut malah seringkali diterjemahkan sebaliknya oleh anak-anak kita.</p>
<p>Himbauan untuk rajin dan giat belajar dari orangtua diterjemahkan menjadi pengekangan dan pengukungan oleh anak-anak. Kritikan atau masukan tentang penampilan anak di atas panggung diterjemahan oleh anak sebagai bentuk tidak adanya penghargaan atas usaha anak.</p>
<p>Dalam banyak kesempatan, baik di seminar ataupun pelatihan tentang pengasuhan anak, saya selalu mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Dan seringkali pula saya tidak mau memberikan jawaban secara langsung, melainkan saya persilahkan sang penanya untuk ke depan forum dan meminta seorang sukarelawan lainnya untuk menemani. Apa yang kami lakukan di depan forum? Berlatih Perceptual Positions!</p>
<p><strong>Caranya :</strong></p>
<p>1.	Kami berbagi peran sebagai Orang ke-1, Orang ke-2 dan Orang ke-3.<br />
2.	Contoh : Sang Penanya sebagai orang pertama (Orangtua), Sang Sukarelawan sebagai orang kedua (Anak) dan saya sebagai orang ketiga (Pengamat)<br />
3.	Saya meminta Sang Penanya memperlihatkan bagaimana caranya berkomunikasi dengan anaknya untuk sebuah masalah “X” dan menunjukan juga bagaimana anaknya merespon terhadap gaya komunikasinya.<br />
4.	Sang Sukarelawan (Orang ke-2) memperhatikan dan meniru gaya anaknya merespon sampai semirip mungkin. Sang Penanya yang akan memberikan feedback agar kepada Orang ke-2 agar dapat meniru gaya komunikasi anaknya.<br />
5.	Setelah sudah sesuai, maka kami masuk ke sesi pertama : memainkan drama komunikasi Orangtua (Orang ke-1) dengan Anak (Orang ke-2). Saya sebagai Orang ke-3 hanya bertugas mengamati dan memberikan feedback agar drama menjadi tampak lebih nyata.<br />
6.	Sesi kedua, kami semua bertukar peran. Orang ke-2 kali ini menjadi Orang ke-1 (Orangtua), Saya menjadi Orang ke-2 (Anak), lalu Orang ke-1 menjadi Orang ke-3 (Pengamat). Lalu kami ulangi lagi drama dengan jalan cerita yang sama persis seperti sesi pertama. Orang ke-3 akan memberikan feedback jika masih ada yang belum sesuai.<br />
7.	Sesi ketiga, kembali semua orang bertukar peran ke peran yang belum diperankan sebelumnya.</p>
<p>Walau standar prosedur yang lengkap adalah sampai sesi ketiga, tetapi kadang baru sampai pada sesi kedua saja (jika semua syarat dan ketentuan dilakukan dengan benar. Red.) Sang Penanya akan tercenung dan langsung membuat pernyataan bahwa dia akan belajar untuk lebih memahami anaknya. Yang lebih ajaib lagi adalah para penonton yang memperhatikan dengan sungguh-sungguh jalannya latihan; pada sesi pertama saja sudah banyak yang memahami apa yang sedang terjadi.</p>
<p>Akhirnya pada sesi penutupan dalam setiap pelatihan kami diambil alih oleh para penonton yang berlomba-lomba ingin sharing. Hidup mendadak menjadi lebih indah daripada biasanya&#8230;.</p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong><br />
Dalam berbagai kesempatan berkomunikasi baik dengan orang lain; anak ataupun dengan pasangan. Pernahkan kita mencoba memahami makna apa yang ingin mereka sampaikan? Selamat berlatih Perceptual Positions!<!--more--></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indoparenting.wordpress.com/62/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indoparenting.wordpress.com/62/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indoparenting.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indoparenting.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indoparenting.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indoparenting.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indoparenting.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indoparenting.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indoparenting.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indoparenting.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indoparenting.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indoparenting.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indoparenting.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indoparenting.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indoparenting.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indoparenting.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=62&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indoparenting.wordpress.com/2008/08/18/nlp-for-parenting-8-kisah-tulisan-jelek-sang-murid-perceptual-positions/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4dd5aadf3b0b69e8ca679c93f4011ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adi Putera W</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #7 – Cara Menjinakan Anak Bandel Nakal – Pacing Leading Anchoring</title>
		<link>http://indoparenting.wordpress.com/2008/08/02/nlp-for-parenting-7-%e2%80%93-cara-menjinakan-anak-bandel-nakal-%e2%80%93-pacing-leading-anchoring/</link>
		<comments>http://indoparenting.wordpress.com/2008/08/02/nlp-for-parenting-7-%e2%80%93-cara-menjinakan-anak-bandel-nakal-%e2%80%93-pacing-leading-anchoring/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 09:18:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Neuro-Linguistic Programming]]></category>
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indoparenting.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Adalah seorang Bapak Victor pemilik Wood Camp; outbound khusus anak-anak. Baru-baru ini ketika dalam kunjungan terakhir di kota Bandung. Di sela-sela sebuah acara bersama dengan beliau. Ada sebuah kisah menarik yang diceritakan tentang team bola basketnya jaman SMA dahulu. Teamnya ini sukar sekali dikalahkan oleh lawan-lawannya. Apa rahasianya? Rahasianya adalah Heart to Heart Communication Strategy. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=52&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Adalah seorang Bapak Victor pemilik Wood Camp; outbound khusus anak-anak. Baru-baru ini ketika dalam kunjungan terakhir di kota Bandung. Di sela-sela sebuah acara bersama dengan beliau. Ada sebuah kisah menarik yang diceritakan tentang team bola basketnya jaman SMA dahulu. Teamnya ini sukar sekali dikalahkan oleh lawan-lawannya. Apa rahasianya? Rahasianya adalah <em>Heart to Heart Communication Strategy</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dalam setiap pertandingan basket, strategi teamnya Pak Victor hampir tidak pernah dapat ditebak oleh lawan-lawannya. Karena semua pemain dalam team dapat mendadak berganti menjadi posisi apa saja dan tanpa harus menunggu komando seseorang. Semua berjalan dengan begitu alami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bagaimana cara kerjanya? Apakah mereka menggunakan sejenis “ilmu”? Seperti apa cara mereka melatihnya? Sambil tertawa mengenang masa lalunya, Pak Victor menceritakan bagaimana mental team lawan sering jatuh karena melihat teamnya Pak Victor jarang sekali terlihat berlatih di lapangan. Mereka malah lebih sering terlihat <em>hang out</em> bersama, makan-makan, nonton film hingga berkemah bersama. Menggoda team lawan yang sedang latihan pun tidak kalah seringnya. Pokoknya semuanya serba bersama. </span><span lang="NL">Sementara team lawan frekwensi berlatihnya di lapangan lebih sering dibandingkan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="ES">Ternyata acara ngumpul bersama tadi itulah salah satu cara mereka berlatih. Karena frekwensi bertemunya sangat sering sehingga mereka menjadi lebih saling kenal satu sama lain. Mereka ter”<em>influence</em>” satu sama lain. Mereka ter”<em>pacing</em>-<em>leading</em>” hingga ter”<em>anchor</em>” satu dengan lainnya. Satu untuk semua dan semua untuk satu menjadi motto yang gak basa-basi. Masing-masing telah menjadi “<em>win-win solution</em>”.</span></p>
<p><span id="more-52"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="ES">Bukankah sebuah keluarga juga sama halnya seperti sebuah team yang terdiri dari anggota-anggota yang memiliki tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. Hanya yang membedakannya adalah jenis permainan yang dimainkan. Bukan bola basket atau sepakbola; melainkan permainan KEHIDUPAN. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="ES">Pacing dan Leading</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="ES">Kata <em>Pacing</em> dan <em>Leading</em> jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah menyamakan atau mengikuti dan <em>Leading</em> adalah memimpin. Ada sebuah alat dalam bidang musik yang dapat mengambarkan hal ini yaitu Garpu Tala. Dalam radio disebut menyamakan frekwensi. Dalam NLP, istilah <em>pacing</em> dan <em>leading</em> digunakan untuk menjelaskan sebuah hubungan komunikasi. <em>Pacing</em> berarti sebuah proses dalam menyamakan agar dapat memiliki pemahaman yang sama dan mengikutinya (<em>Leadin</em></span><em><span>g)</span></em><span>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NL">Cukup banyak metode dan teknik yang ditemukan dan diajarkan oleh para pakar NLP dunia tentang hal ini. </span><span>Akan tetapi, sayangnya metode dan teknik tersebut malah terlihat seperti pemain pantomin yang sedang <em>break dance</em> ketika dipraktekan. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Praktisi NLP seringkali terjebak dalam langkah-langkah metode dan teknik yang dipelajarinya, sehingga situasi dan keadaan sekeliling praktisi yang seharusnya perlu diperhatikan menjadi terabaikan. Karena terlalu fokus pada metode dan tekniknya. Ini berakibat pada penyikapan dan pengaplikasinya menjadi tidak berkembang. Tidaklah mengherankan bila sampai ada praktisi yang kecewa dan kemudian mencibir teknik-teknik NLP.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dalam lingkungan keluarga, teknik <em>pacing</em> dan <em>leading</em> ini harusnya dapat menyelamatkan banyak kehidupan keluarga jika orangtua tidak memaksakan anaknya untuk mengerti orangtua. Andai saja, boleh menyarankan bila para orangtua menyadari bahwa mereka pernah menjadi anak, sedangkan anak belum pernah menjadi orangtua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pernahkah orangtua berusaha menyamakan (<em>pacing</em>) dahulu ke anaknya yang mogok belajar, yang lebih senang bermain game. Lalu belajar memahami mengapa anaknya berprilaku seperti itu? Atau lebih memilih langsung marah besar ke anak dan memberi predikat “anak bermasalah” yang tidak tahu diri; disuruh belajar malah main. Apa ngak tahu bahwa bapak atau ibunya ingin dia menjadi anak yang pintar? Apa ngak tahu kalau orangtuanya setengah mati mencari uang guna menafkahinya? </span><span lang="ES">Dasar anak bandel nakal! Maka dibawalah anak ini ke psikiater karena anaknya “bermasalah”. Sebetulnya siapa yang “bermasalah”?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Anchoring</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kata <em>Anchor</em>/<em>Anchoring</em> jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah sebagai jangkar atau sauh. Fungsi dari jangkar atau sauh ini adalah untuk “memegang” kapal agar tidak terbawa arus laut. Dalam NLP, kata ini dapat berarti “tombol pemicu” dalam memanggil pikiran dan perasaan tertentu yang telah “terjangkar” dalam diri seseorang sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sekarang mari kita bayangkan kembali kondisi cerita di atas. Apa jadinya anak yang telah diberi cap “bermasalah” tadi oleh psikiater, tabib atau malah dukun. Dan orangtuanya malah ikut-ikutan memberi vonis yang sama? Padahal siapakah orang yang paling mengenal Sang Anak jika bukan orangtuanya? Sungguh kasihan, Sang Anak yang tadinya netral, kini telah di <em>anchoring</em> oleh lingkungannya dengan “nakal”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="ES"> Padahal <em>anchoring</em> itu sendiri adalah netral. Karena sifatnya lebih seperti sebuah “tombol pemicu”. Tombol ini dapat berupa : sebuah suara, sebuah gambar, sebuah rasa, sebuah aroma dan sebuah belaian atau sentuhan. Tinggal bagaimana Anda meng”jangkar” salah satu atau kelima hal tersebut pada sebuah pikiran dan perasaan tertentu. Pilihan ada pada tangan Anda…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> Pertanyaan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> 1. Seberapa banyak Anda sebagai orangtua melakukan <em>pacing</em> dan <em>leading</em> dalam menghadapi anak Anda?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>2. Hal apa yang paling sering dilakukan Anda selaku orangtua dalam meng <em>anchoring</em> anak Anda?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indoparenting.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indoparenting.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indoparenting.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indoparenting.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indoparenting.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indoparenting.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indoparenting.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indoparenting.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indoparenting.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indoparenting.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indoparenting.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indoparenting.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indoparenting.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indoparenting.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indoparenting.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indoparenting.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=52&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indoparenting.wordpress.com/2008/08/02/nlp-for-parenting-7-%e2%80%93-cara-menjinakan-anak-bandel-nakal-%e2%80%93-pacing-leading-anchoring/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4dd5aadf3b0b69e8ca679c93f4011ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adi Putera W</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #6 Cara Hebat Memikat Anak Makan</title>
		<link>http://indoparenting.wordpress.com/2008/07/21/nlp-for-parenting-6-cara-hebat-memikat-anak-makan/</link>
		<comments>http://indoparenting.wordpress.com/2008/07/21/nlp-for-parenting-6-cara-hebat-memikat-anak-makan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 11:19:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Neuro-Linguistic Programming]]></category>
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indoparenting.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Bayangan indah dalam benak Nico di libur panjang lebaran kali ini yang rencananya bakal diisi dengan menonton koleksi DVD terbarunya buyar seketika. Penyebabnya adalah fakta bahwa pembantunya mudik, rumahnya yg tiba-tiba laku sesaat sebelum lebaran dan disusul dengan jadwal pindahan dan renovasi rumah baru yang tentu saja harus selesai sebelum kelahiran anak keduanya, istri yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=28&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bayangan indah dalam benak Nico di libur panjang lebaran kali ini yang rencananya bakal diisi dengan menonton koleksi DVD terbarunya buyar seketika. Penyebabnya adalah fakta bahwa pembantunya mudik, rumahnya yg tiba-tiba laku sesaat sebelum lebaran dan disusul dengan jadwal pindahan dan renovasi rumah baru yang tentu saja harus selesai sebelum kelahiran anak keduanya, istri yang sedang hamil tua plus Juniornya yang baru saja merayakan ulang tahun ke-2 nya, yang tentu saja sedang aktif-aktifnya.</p>
<p>Tiba-tiba saja Nico dituntut menambah perannya dari seorang Super Dad dan Super Husband dengan peran baru ‘Super Nanny’ karena mendadak jadi pengganti pengasuh membantu istrinya yang sedang hamil tua dalam mengasuh Si Junior, Super ‘Mandor’ dalam mengawasi tukang-tukangnya dan Super ‘Movers’ dalam mengemasi barang-barang pindahan dalam waktu sesingkat mungkin.</p>
<p>Yang seringkali membuatnya sakit kepala adalah bilamana tugas-tugas tersebut tiba-tiba membutuhkan tindakan segera di saat yang hampir bersamaan. Entah apa hikmah di balik semua ini buat seorang Nico yang tentu saja memiliki keterbatasannya sendiri.</p>
<p>Ada kalanya ia mesti berkejar-kejaran dengan si Junior untuk mandi sore, sementara istrinya minta tolong di dapur karena membutuhkan bantuannya mengangkat tabung gas dan menuang galon air minum. Baru saja dia selesai menyapukan tissue pembersih ke galon air minum, sekonyong-konyong sang kepala tukang muncul di depan pintu minta uang untuk membeli bahan bangunan, sementara uang kontan di tangan tidak mencukupi, sehingga ia harus bergegas ke ATM dahulu.</p>
<p>Atau, ketika sedang sibuk mengemasi barang-barang pindahan, tiba-tiba tukangnya menelepon memberitahukan bahwa ada saluran air yang tidak beres sehingga perlu membongkar ubin saat itu juga. Mau tak mau Nico mesti bergegas ke lokasi rumah baru mengecek masalah tersebut. Pada saat yang bersamaan istrinya sudah kelelahan karena membantunya mengemasi barang pindahan dan perlu beristirahat segera, sementara,  waktu makan si Junior sudah tiba. Ini berarti mau tak mau,  tugas Nico lah untuk menyuapi anaknya makan.<span id="more-28"></span></p>
<p>Kalau bagi sebagian besar orangtua, anak yang sulit dibujuk untuk tidur merupakan masalah besar, sebaliknya bagi Nico. Sebagai pekerja yang sering dikejar deadline, ia sudah terlatih menjadi seorang ‘Batman’. Tantangan terberat dan yang menjadi ‘Fear Factor’ Nico justru adalah ketika ia mesti menyuapi anaknya makan.</p>
<p>Anaknya sulit sekali membuka mulutnya untuk makan. Kadang kala tidak jelas siapa menyuapi siapa, karena seringkali anak berebut sendok dengan bapak. Butuh waktu lebih dari satu jam untuk menyelesaikan makan siang atau makan malamnya.</p>
<p>Hingga suatu saat, Nico tiba-tiba teringat dan menyadari bahwa pengasuh Junior selalu menggunakan dua buah sendok ketika menyuapi anaknya makan. Rupanya tanpa sadar Sang Pengasuh memanfaatkan kondisi trance Sang Anak yang bermain-main dengan sendok dan makanannya. Ketika anak yang sedang trance dengan permainannya, maka pengasuh relatif lebih mudah meminta anak membuka mulut dan melahap makanannya tanpa perlawanan.</p>
<p><strong>Trance</strong></p>
<p>Bagi masyarakat awam kata trance ini masih asing dan seringkali mereka tidak dapat membayangkan apa yang dimaksudkan. Karena bunyi yang terdengar adalah “Trans”. Yang terbayangkan oleh mereka adalah angkutan umum – transport atau lemak yang berbahaya bagi tubuh – lemak trans.</p>
<p>Padahal yang dimaksudkan dengan trance di sini adalah suatu kondisi atau keadaan ketika pikiran manusia terfokus pada suatu aktifitas atau kejadian. Misalkan saat anda fokus pada tontonan di televisi; suara keramaian di sekeliling mendadak menjadi tidak terdengar. Nyata-nyatanya, mungkin istri atau suami Anda sudah beberapa kali memanggil-manggil nama Anda.</p>
<p>Pada saat trance, pikiran sadar manusia yang menjadi penyaring informasi menjadi lumpuh sesaat; sehingga informasi-informasi masuk ke dalam pikiran relatif tanpa disaring. Jangan heran jika ibu-ibu yang menonton sinetron bisa ikutan menangis terbawa cerita, meskipun mereka tahu itu hanyalah sekdedar lakon belaka.</p>
<p>Atau bapak-bapak yang ikutan menendang meja ketika sedang seru-serunya mengikuti pertandingan bola di televisi, meskipun mereka tahu bahwa tindakan mereka tidak akan secara langsung membantu terciptanya sebuah gol.</p>
<p>Kondisi trance ini tidaklah mewakili atau menunjukan suatu gambaran yang sifatnya baik ataupun buruk. Melainkan hanyalah sebuah keadaan netral yang dapat saja digunakan untuk tujuan yang bermanfaat atau disalahgunakan untuk tujuan yang tidak bermanfaat.</p>
<p>Bagi pelaku kejahatan, kondisi trance ini dimanfaatkan untuk menghipnotis korban untuk melakukan tindakan yang telah diprogram untuk kepentingan pribadinya. Bagi Therapis, kondisi trance ini dimanfaatkan untuk menolong kliennya memecahkan masalahnya. Bagi para orangtua yang mengerti menggunakannya, keadaan ini dapat dijadikan alat untuk menanamkan nilai-nilai dan prilaku yang bermanfaat bagi anaknya.</p>
<p>Hasil penelitian menunjukan bahwa anak-anak lebih mudah masuk dalam keadaan trance dibandingkan dengan orang dewasa yang relatif membutuhkan waktu yang lebih panjang. Oleh sebab itu, Anda selaku orangtua perlu lebih berhati-hati terhadap segala tindakan ataupun ucapan di depan anak Anda. Karena apapun yang dilihat ataupun didengar oleh anak dalam keadaan trance, informasi tersebut akan masuk ke dalam pikiran anak dan menetap menjadi sebuah program yang kita tidak tahu kapan akan aktif bekerja.</p>
<p>Jika hanya sekedar meminta anak membuka mulut untuk disuapkan dengan makanan pada saatnya makan; mungkin hal ini tidak terlalu menjadi masalah. Bagaimana jika dalam keadaan trance anak mendengar dan menyaksikan orangtuanya berselisih pendapat?</p>
<p><strong>Kisah dan Komentar Anda</strong></p>
<p>Apakah anda memiliki pengalaman yang unik dalam mengasuh anak? Kirimkan kisah dan komentar Anda. Jika anda mencantumkan alamat email; saya akan mengirimkan artikel “Mengenali kondisi trance pada anak dan bagaimana memanfaatkannya”.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indoparenting.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indoparenting.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indoparenting.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indoparenting.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indoparenting.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indoparenting.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indoparenting.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indoparenting.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indoparenting.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indoparenting.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indoparenting.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indoparenting.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indoparenting.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indoparenting.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indoparenting.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indoparenting.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=28&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indoparenting.wordpress.com/2008/07/21/nlp-for-parenting-6-cara-hebat-memikat-anak-makan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4dd5aadf3b0b69e8ca679c93f4011ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adi Putera W</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #5 Berdamai dengan Myoma, Cara indah selamatkan Ibu dan Bayi</title>
		<link>http://indoparenting.wordpress.com/2008/07/19/nlp-for-parenting-5-berdamai-dengan-myoma-cara-indah-selamatkan-ibu-dan-bayi/</link>
		<comments>http://indoparenting.wordpress.com/2008/07/19/nlp-for-parenting-5-berdamai-dengan-myoma-cara-indah-selamatkan-ibu-dan-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 12:36:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[myoma]]></category>
		<category><![CDATA[Neuro-Linguistic Programming]]></category>
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indoparenting.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Nita semakin cemas ketika dokter kandungannya memperlihatkan gambar di USG yang menunjukan perkembangan myoma dalam kandungannya tumbuh lebih cepat daripada perkembangan bayinya. “Bu, ada kemungkinan dokter perlu mengangkat myoma di semester ketiga kehamilan, bila pertumbuhan myomanya begitu besar hingga mengganggu pertumbuhan bayi ibu. Tapi bagaimanapun, itu hanya satu kemungkinan. Yang terpenting ibu harus tetap tenang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=23&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nita semakin cemas ketika dokter kandungannya memperlihatkan gambar di USG yang menunjukan perkembangan myoma dalam kandungannya tumbuh lebih cepat daripada perkembangan bayinya.</p>
<p>“Bu, ada kemungkinan dokter perlu mengangkat myoma di semester ketiga kehamilan, bila pertumbuhan myomanya begitu besar hingga mengganggu pertumbuhan bayi ibu. Tapi bagaimanapun, itu hanya satu kemungkinan. Yang terpenting ibu harus tetap tenang, stress dapat menjadi pupuk myoma juga.” Dokter mencoba menenangkan Nita yang terlihat cemas dan terpukul.</p>
<p>Sungguh ironis perasaannya saat ini dengan yang dirasakannya 3 bulan yang lalu dimana saat-saat terasa begitu indah dan mengembirakan ketika dokter menyatakan Nita positif hamil bayinya yang pertama setelah menunggu bertahun-tahun.</p>
<p>Benar saja; walaupun sudah mencoba menenangkan diri. Rasa cemas dan tertekan akan keselamatan bayi dan dirinya tetap saja menghantui di hari-hari sesudahnya. Hingga suatu hari tanpa sengaja, Nita mendapatkan forward sebuah email yang menceritakan bagaimana seorang pakar NLP membantu pemulihan kanker payudara ibunya dengan Presupposition NLP : Behind every behavior has a positive intention.<span id="more-23"></span></p>
<p><strong>Apa itu Presupposition? </strong></p>
<p>Dalam kerangka NLP, Presupposition adalah sebuah asumsi dasar yang ditetapkan dan “sengaja diyakini benar” untuk memudahkan membuat keputusan dan bertindak berdasarkan asumsi tersebut.<br />
Mengapa saya memberi tanda kutip dalam kalimat “sengaja diyakini benar”? Karena presupposition ini tidak berlaku secara universal. Seorang praktisi NLP yang terlatih akan sangat berhati-hati sekali dalam menggunakan berbagai presupposition ini. Karena presupposition ini sebetulnya hanyalah “seperangkat alat”; bukanlah “sebuah aksioma” yang tidak dapat dibantahkan.</p>
<p><strong>Presupposition : Behind every behavior has a positif intention </strong></p>
<p>Dalam kasus di atas, secara bebas saya terjemahkan menjadi “Di balik setiap kesan yang muncul dalam tubuh memiliki tujuan yang bermanfaat”.</p>
<p>Dari data statistika dokter menyatakan bahwa 20% dari wanita usia produktif memiliki myoma dalam kandungannya. Bedanya adalah ada yang ukurannya tetap, sedang lainnya dapat tumbuh. Menjaga keseimbangan emosi merupakan kunci agar myoma tidak berkembang.</p>
<p><strong>Tips : </strong></p>
<p>Setelah mendapatkan informasi yang lebih mendetail dan menyadari bahwa keseimbangan emosi merupakan salah satu kuncinya, Nita kemudian membuat beberapa langkah :</p>
<p>1. Berdamai dengan myoma dengan menerima kehadiran myoma yang sudah tumbuh dalam kandungannya.</p>
<p>2. Mencari tahu apa tujuan yang bermanfaat yang ingin disampaikan oleh tubuh kepadanya melalui tumbuhnya myoma dengan teknik “6 step reframing”.</p>
<p>3. Melibatkan pasangan sebagai partner ketika melakukan teknik “6 step reframing”.</p>
<p>Hasilnya : Selain Ibu; Bayi pun membutuhkan perhatian dari Ayah dan lingkungan terhadap kehadirannya. Ayah tidak hanya cukup mengusap-gusap perut ibunya dan berbicara sekedarnya, Bayi pun membutuhkan komunikasi yang lebih mendalam dalam “rasa”.</p>
<p>Ketika Ayah dan Ibu lebih banyak berbicara dengan bayinya dan myoma juga. Secara bertahap, myoma berhenti tumbuh dan mengecil dari bulan ke bulan. Bayi pun tumbuh dengan baik dan normal.<br />
Pada akhirnya Nita terpaksa harus dioperasi ketika melahirkan, tetapi bukan lagi dikarenakan oleh myomanya. Tetapi karena ada dua lilitan tali pusar pada leher bayinya.</p>
<p>Penyebabnya : Nita kurang tepat ketika berbicara dengan bayinya selama ini. “Hati-hati yah, nak. Kalau bermain-main dalam perut mama “jangan” sampai kelilit tali pusar, ya”. Nita lupa bahwa kata “jangan” hanya ada di kamus, tidak ada di dunia nyata.</p>
<p><strong>Pertanyaan : </strong></p>
<p>Jika bayi dalam kandungan saja membutuhkan perhatian dari kedua orangtuanya. Bagaimana bentuk perhatian Anda kepada anak-anak yang sudah Anda lahirkan?</p>
<p><em><strong>PERHATIAN! Tulisan ini dibuat bukan bertujuan menggantikan pengobatan dari dokter, melainkan hanya sebagai pelengkap.</strong></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indoparenting.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indoparenting.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indoparenting.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indoparenting.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indoparenting.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indoparenting.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indoparenting.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indoparenting.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indoparenting.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indoparenting.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indoparenting.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indoparenting.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indoparenting.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indoparenting.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indoparenting.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indoparenting.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=23&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indoparenting.wordpress.com/2008/07/19/nlp-for-parenting-5-berdamai-dengan-myoma-cara-indah-selamatkan-ibu-dan-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4dd5aadf3b0b69e8ca679c93f4011ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adi Putera W</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #4 Cara cerdas mencerdaskan anak (dan) Anda.</title>
		<link>http://indoparenting.wordpress.com/2008/07/15/nlp-for-parenting-4-cara-cerdas-mencerdaskan-anak-dan-anda/</link>
		<comments>http://indoparenting.wordpress.com/2008/07/15/nlp-for-parenting-4-cara-cerdas-mencerdaskan-anak-dan-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 05:17:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Cara cerdas]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Neuro-Linguistic Programming]]></category>
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indoparenting.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Sekonyong-konyong pendingin udara di ruang konsultasi anak seolah tidak berfungsi sama sekali. Suasana pun semakin memanas ketika Pak Tikno dan Bu Tikno saling menuding satu sama lain. Mereka belum menemukan kata sepakat atas kesulitan belajar yang dialami oleh anak kembar mereka; Dino dan Doni yang masih duduk di sekolah dasar. Pak Tikno merasa bahwa Dino [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=22&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekonyong-konyong pendingin udara di ruang konsultasi anak seolah tidak berfungsi sama sekali. Suasana pun semakin memanas ketika Pak Tikno dan Bu Tikno saling menuding satu sama lain. Mereka belum menemukan kata sepakat atas kesulitan belajar yang dialami oleh anak kembar mereka; Dino dan Doni yang masih duduk di sekolah dasar.</p>
<p>Pak Tikno merasa bahwa Dino mempunyai masalah belajar sehingga perlu ditanggani segera. Lain halnya dengan Bu Tikno yang sudah memastikan bahwa justru Doni lah yang mempunyai masalah belajar dan harus ditanggulangi secepatnya.</p>
<p>“Pak, saya lihat Dino mempunyai masalah dalam menyerap pelajaran. Saya sering sampai larut malam jika harus menemaninya belajar. Sedangkan Doni ketika saya mengajarinya cepat sekali mengertinya. Cukup diperlihatkan beberapa contoh, berikutnya dia tinggal ngikuti ‘in”, Ujar Pak Tikno sambil berusaha menenangkan dirinya.</p>
<p>“Mas, kamu ini tahu apa dengan masalah anak-anak. Saya yang setiap hari lebih sering di rumah pasti lebih tahu. Jelas-jelas yang bermasalah itu Doni. Lah, wong kemarin saya menemaninya membuat PR sampai pukul sebelas malam. Sampai cape saya jelas‘in. Sedangkan Dino sudah selesai sejak pukul delapan.”, Timpal Bu Tikno yang tidak dapat menerima pendapat suaminya.</p>
<p>Masing-masing mempunyai cerita, pengalaman dan argumen yang sama kuat dan sama meyakinkannya. Untuk mencegah masalah perdebatan yang semakin berlarut-larut, maka sebagai jalan tengah diadakanlah test modalitas bagi kedua orangtuanya sekaligus kedua anak kembar mereka.<span id="more-22"></span></p>
<p>Seperti yang sudah diduga sebelumnya, hasil menunjukan bahwa modalitas Pak Tikno dan Doni adalah sama yaitu dominan visual. Sedangkan Bu Tikno dan Dino menunjukan dominan auditory.</p>
<p>Modalitas</p>
<p>Apa yang terbersit dalam pikiran Anda ketika kata “modalitas” ini muncul? Apakah Anda merasa ada hubungannya dengan salah satu istilah ekonomi? Permodalan?</p>
<p>Ya. Walaupun tidak berhubungan langsung dengan bidang ekonomi, arti kata modalitas yang saya maksudkan memang menyerempet kata “modal” dalam istilah ekonomi. Modalitas dalam konteks NLP adalah Representational System atau biasa disingkat dengan Rep System. Ini merupakan modal yang diberikan Tuhan kepada manusia berupa indera penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan.</p>
<p>Modalitas atau Rep System ibarat saringan bagaimana seorang manusia memaknai suatu kejadian di luar sebelum dimasukkan ke dalam pikirannya. Untuk memudahkan pemahaman, mari kita gunakan istilah VAKOG – Visual (penglihatan), Auditory (pendengaran), Kinestetik (perabaan), Olfactory (penciuman), Gustatory (pengecapan).</p>
<p>Dalam setiap manusia semua unsur VAKOG ini berfungsi sama baiknya. Tidak ada unsur yang lebih baik dari unsur lainnya. Hanya pada sebagian orang, ada bagian-bagian yang lebih dominan dan bagian lainnya kurang dominan.</p>
<p>Misalkan, orangtua yang dominan Visual dalam mengajarkan anaknya belajar kecenderungannya akan lebih sering dengan menunjukan atau memperlihatkan bahan pelajaran.</p>
<p>Sedangkan anak yang memiliki dominan Auditory, tentu akan lebih nyaman dengan suara atau dibacakan bahan pelajarannya; tidak hanya sekedar ditunjukan.</p>
<p>Atau anak yang dominan Kinestetik, di mana gaya belajarnya adalah menggoyang-goyangkan kaki atau memutar-mutar penanya harus berhadapan dengan orangtuanya yang dominan visual, dimana akan merasa “terganggu” dengan “gerakan-gerakan” Sang Anak.</p>
<p>Anda dapat gambarkan dan ceritakan apa yang akan terjadi jika orangtua tidak menyadari modalitas dirinya dan modalitas anaknya? Yang terbayang adalah antara orangtua dan anak saling memberi label “bermasalah” antar satu dengan lainnya. Yang terdengar adalah saling berbicara dengan suara keras antar yang satu dengan lainnya ketika belajar. Titik temu sebetulnya dapat diatasi dengan saling mengenal modalitas masing-masing dan belajar bagaimana menyeimbangkannya sehingga menjadi tidak terlalu dominan.</p>
<p>Tips<br />
Perhatikan dan amati anak anda ketika mereka sedang berbicara atau ketika mereka sedang beraktifitas. Kata kerja apa yang paling sering mereka gunakan ketika berkomunikasi dengan anda dan aktifitas apa yang paling disukai mereka.</p>
<p>Anak dengan dominan Visual, mereka akan lebih sering menggunakan kata kerja : melihat, memandang, menunjukan, warna, gelap terang, dll. Aktifitas yang disenangi biasanya menggambar.</p>
<p>Anak dengan dominan Auditory, mereka akan lebih sering menggunakan kata kerja : mendengar, bertanya, menjawab, berisik, suara, dll. Aktifitas yang disenangi biasanya bermain musik.</p>
<p>Anak dengan dominan Kinestetik, mereka akan lebih sering menggunakan kata kerja : merasakan, nyaman, memegang, menyentuh, membawa, dll. Aktifitas yang disenangi biasanya kegiatan yang banyak gerak.</p>
<p>Untuk Olfactory dan Gustatory biasanya dimasukan dalam Kinestetik untuk menyederhanakan pemahaman.</p>
<p>Pertanyaan :<br />
Apakah Anda mengetahui modalitas yang dominan dalam diri Anda? Pasangan Anda? Dan anak Anda?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indoparenting.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indoparenting.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indoparenting.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indoparenting.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indoparenting.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indoparenting.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indoparenting.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indoparenting.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indoparenting.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indoparenting.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indoparenting.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indoparenting.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indoparenting.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indoparenting.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indoparenting.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indoparenting.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=22&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indoparenting.wordpress.com/2008/07/15/nlp-for-parenting-4-cara-cerdas-mencerdaskan-anak-dan-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4dd5aadf3b0b69e8ca679c93f4011ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adi Putera W</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #3  Awas Smack Down! = Waspadai pola modelling anak-anak!</title>
		<link>http://indoparenting.wordpress.com/2008/03/06/nlp-for-parenting-3-awas-smack-down-waspadai-pola-modelling-anak-anak/</link>
		<comments>http://indoparenting.wordpress.com/2008/03/06/nlp-for-parenting-3-awas-smack-down-waspadai-pola-modelling-anak-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 03:39:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Neuro-Linguistic Programming]]></category>
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indoparenting.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu jalanan begitu padat dan matahari begitu terik. Semua orang yang berada dalam perjalanan pulang ke rumah merasa begitu kesal dan penuh emosi. Kecuali Dinar; ibu dua putra, lulusan psikologi universitas negeri ternama yang tengah berbunga-bunga perasaannya. Dukungan 1 juta tanda tangan petisi “Anti Tayangan Kekerasan di Televisi” serta network pergaulannya yang luas; Pelan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=21&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sore itu jalanan begitu padat dan matahari begitu terik. Semua orang yang berada dalam perjalanan pulang ke rumah merasa begitu kesal dan penuh emosi. Kecuali Dinar; ibu dua putra, lulusan psikologi universitas negeri ternama yang tengah berbunga-bunga perasaannya.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dukungan 1 juta tanda tangan petisi “Anti Tayangan Kekerasan di Televisi” serta network pergaulannya yang luas; Pelan tapi pasti, tayangan kekerasan mulai berkurang di semua TV swasta. Ada yang mengurangi jam tayang, ada yang memindahkan jam tayang, ada pula yang sama sekali menghilangkannya. Telah terbayang, penghargaan yang akan diterimanya besok lusa atas kegigihan dan konsistensinya melawan kekerasan pada anak-anak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tiba-tiba, di tengah kemacetan; pandangan matanya terantuk pada sekumpulan bocah-bocah yang tengah mengerubungi sesuatu. Sepertinya sebuah perkelahian. Ada yang aneh. Mengapa bocah-bocah itu begitu gegap gempita dan ceria?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Terkadang mereka ikut berteriak dan kadang beberapa di antara mereka menirukan gerakan berkelahi. Dinar merasa penasaran dan ketika mobilnya bergerak mendekati kerumunan di pinggir jalan itu, ia melihat penjual VCD bajakan sedang tengah memutar film Smack-down! Ia terhenyak. Sejenak kepalanya terasa pusing.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mengapa masih ada saja yang melakukan itu? Padahal tayangannya sudah sangat berkurang di televisi. Malah sekarang muncul di jalanan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Belum hilang rasa pusingnya, ketika melewati lampu merah, ia terkena macet lagi dan mau tidak mau, kembali ia harus melihat pemandangan “menyeramkan” lagi : kumpulan anak-anak di depan penjual games playstation yg judul &amp; gambarnya lagi-lagi tentang smack-down.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dinar merasa begitu lemas. Ia tidak mau melihat lagi. Ada rasa sakit. Seperti dikhianati. Ia memutuskan memacu mobilnya cepat-cepat. Ia ingin cepat tiba di rumah dan melihat putera-puteranya yang manis dan santun memeluk dan menyambutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tiba di ujung gang besar, Dinar mendengus kesal. Jalan ditutup. Entah ada apa. Sekilas ia melihat tumpukan janur yang belum dijalin. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Mungkin ada yang mau menikah”.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ia bergegas mengambil laptop dan tas kerjanya. Lalu berjalan cepat menuju rumahnya. Ada sebuah rumah yang tampak ramai. Pagarnya terbuka dan di depan pintu dipenuhi sandal-sandal kecil.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Oh, apakah perpustakaan mini? Kemarin belum ada”. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Penasaran, ia langkahkan kaki ke dalam rumah itu. Siapa tahu ia akan mengajak Bayu dan Dimas ke situ besok. Setibanya di dalam, lagi-lagi ia terkesiap. Bukan perpustakaan mini yang rapi dan tenang. Tapi sebuah tempat penyewaan playstation yang gaduh dan riuh. Ada anak yang bermain, ada yang hanya menonton.<span> </span>Tujuh dari sepuluh<span> </span>pemain memilih film permainan gulat : smack-down!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kali ini Dinar tak tahan lagi. “Bencana” itu tidak menjauh. Malah kini makin mendekati anak-anaknya. Hanya sepelemparan batu dari rumahnya. Ia mundur dan menutup pintu dengan lemah.<span> </span>Langkahnya gontai, matanya basah. Apa lagi yang harus kulakukan? Berminggu-minggu kuhabiskan waktu berkampanye, melobby sana sini, berbicara di seminar-seminar besar dan kecil. Bayu dan Dimas pun terpaksa harus merelakan waktu mereka bersama bundanya banyak tersita. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Demi Bayu, Dimas dan semua anak Indonesia”, begitu selalu kata Dinar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kedua jagoannya bisa diberi pengertian, tapi Mas Danu; suaminya sudah beberapa kali mengultimatumnya, “Ini pertama dan terakhir kamu sesibuk ini. Lagipula, apa sih salahnya dengan gulat smack-down? Kan tidak semua orang jadi korban. Menurutku malah bagus, anak laki-laki harus nonton, supaya tidak jadi gemulai. Lagipula, apa sih yang membuat kamu begitu yakin kalau kamu bisa mengubah keadaan?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sesulit inikah untuk melindungi buah hati tercinta Anda?<span id="more-21"></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Modelling</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apa yang seketika muncul dalam benak Anda jika mendengar kata Modelling? Ibu-ibu membayangkan wanita bertubuh langsing yang selalu diidam-idamkan. Mungkin sebagian kaum pria langsung terbayang tayangan Fashion TV. Kalau Anda, apa yang muncul dalam benak?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Modelling yang saya maksudkan di sini tidak ada hubungan dengan dunia fashion ataupun bintang iklan manapun. Modelling yang maksud di sini adalah kemampuan meniru.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Anda yang telah memiliki anak tentu masih ingat ketika awalnya mengajari mereka berbicara. Walaupun anak Anda mengeluarkan suara yang jauh daripada mirip “Papa” atau “Mama”, Anda tetap konsisten dengan “Pa.. Pa..” atau “Ma.. Ma..” berulang kali tanpa bosan-bosannya. Sampai ketika anak Anda berhasil menyebutkan dengan benar; berarti anak Anda sudah berhasil memodel Anda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berbeda dengan pikiran orang dewasa yang daya kritisnya sudah matang, pikiran anak-anak hampir selalu dalam keadaan imajinatif. Apa pun yang mereka lihat, dengar dan rasakan akan cepat sekali ditiru atau dimodel. (baca juga NLP for Parenting #1)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bayangkan bila mereka menonton tayangan di televisi tanpa didampingi oleh orang dewasa di sampingnya. Apa jadinya tontonan kekerasan yang sebetulnya ditujukan untuk hiburan orang dewasa yang sebetulnya penuh dengan trik muslihat kemudian dianggap benar oleh anak-anak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ketika mereka dilarang meniru adegan tersebut malah menimbulkan tanda tanya bagi anak-anak; bagi mereka tindakan tersebut dianggap sebagai bermain. “Toh, di televisi orang-orangnya masih dapat bangun dan berteriak-teriak lagi. Kenapa sih papa mama selalu menghalangi kesenangan saya”, begitu yang ada dalam benak anak-anak. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Stasiun televisi sudah memasang tanda BO, bahkan kini ditulis “Bimbingan Orangtua” pada sudut televisi Anda. Tanda itu bukanlah HIASAN semata,melainkan PERINGATAN! </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tips :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dampingilah selalu buah hati dalam setiap tontonannya agar mereka mendapatkan informasi yang benar dari Anda; selaku orangtuanya. Penjelasan dari Anda seperti layaknya sebuah program antivirus yang melindungi komputer dari serangan virus. Sama halnya dengan antivirus yang harus diupdate setiap saat. Mendampingi anak menonton pun harus dilakukan sesering mungkin, bukan hanya sesaat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertanyaan :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berapa jam sehari anak Anda duduk di depan televisi? Jenis tontonan seperti apa yang mereka lihat?</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indoparenting.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indoparenting.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indoparenting.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indoparenting.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indoparenting.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indoparenting.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indoparenting.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indoparenting.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indoparenting.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indoparenting.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indoparenting.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indoparenting.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indoparenting.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indoparenting.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indoparenting.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indoparenting.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=21&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indoparenting.wordpress.com/2008/03/06/nlp-for-parenting-3-awas-smack-down-waspadai-pola-modelling-anak-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4dd5aadf3b0b69e8ca679c93f4011ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adi Putera W</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Buku : The Wild Days NLP &#8211; 1972-1981</title>
		<link>http://indoparenting.wordpress.com/2008/02/11/the-wild-days-nlp-1972-1981/</link>
		<comments>http://indoparenting.wordpress.com/2008/02/11/the-wild-days-nlp-1972-1981/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 05:51:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Neuro-Linguistic Programming]]></category>
		<category><![CDATA[NLP]]></category>
		<category><![CDATA[Terry McClandon]]></category>
		<category><![CDATA[Wild Days]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indoparenting.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin ini merupakan satu-satunya buku yang membahas sejarah NLP. Biasanya buku-buku tentang NLP yang beredar di pasaran memuat metode dan teknik yang berhasil diaplikasikan oleh para penulisnya. Sebutlah salah satu yang sangat populer adalah &#8220;Unleash The Power Within&#8221; oleh Anthony Robbins. Gaya bahasa yang ringan dalam buku ini mengingatkan saya ketika sedang membaca sebuah diary [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=15&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Cover Wild Days" href="http://indoparenting.files.wordpress.com/2008/02/wild_days.jpg"><img style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" src="http://indoparenting.files.wordpress.com/2008/02/wild_days.thumbnail.jpg?w=500" border="0" alt="Cover Wild Days" /></a>Mungkin ini merupakan satu-satunya buku yang membahas sejarah NLP. Biasanya buku-buku tentang NLP yang beredar di pasaran memuat metode dan teknik yang berhasil diaplikasikan oleh para penulisnya. Sebutlah salah satu yang sangat populer adalah <em>&#8220;Unleash The Power Within&#8221; </em>oleh Anthony Robbins.</p>
<p>Gaya bahasa yang ringan dalam buku ini mengingatkan saya ketika sedang membaca sebuah diary dari penulisnya (Terry McClendon) daripada sebagai sebuah buku ilmiah yang serius.</p>
<p>Terry berhasil membawa pembacanya ke masa-masa awal ilmu ini dikembangkan. Melalui serangkaian percobaan-percobaan dari kelompok-kelompok belajar peminat psikologi di Universitas Santa Cruz. Dimana yang menjadi motor pengeraknya adalah Richard Bandler dan John Grinder; duo jenius yang menemukan Neuro Linguistic Programming atau disingkat NLP.</p>
<p>Buku ini layak dibaca oleh orang awam yang ingin mengenal NLP, juga sangat disarankan untuk para praktisi NLP agar mengetahui lebih mendalam bagaimana teknik-teknik dasar NLP mengalami perkembangan hingga hari ini.</p>
<p>Terry secara gamblang menceritakan konflik-konflik yang timbul antar founder dan dengan murid sekaligus rekan pembelajaran di awal-awal masa penemuan NLP ini. Sehingga sebagai peminat NLP kita dapat memaklumi mengapa hingga hari ini begitu banyak cabang ilmu NLP bermunculan dan mengusung bendera dengan nama berbeda tetapi setelah ditelaah lebih lanjut ternyata sama saja.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indoparenting.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indoparenting.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indoparenting.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indoparenting.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indoparenting.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indoparenting.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indoparenting.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indoparenting.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indoparenting.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indoparenting.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indoparenting.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indoparenting.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indoparenting.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indoparenting.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indoparenting.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indoparenting.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=15&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indoparenting.wordpress.com/2008/02/11/the-wild-days-nlp-1972-1981/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4dd5aadf3b0b69e8ca679c93f4011ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adi Putera W</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indoparenting.files.wordpress.com/2008/02/wild_days.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Wild Days</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #2 Cara Cepat Menidurkan Anak = seberapa baik Rapport Anda dengan anak</title>
		<link>http://indoparenting.wordpress.com/2008/02/10/nlp-for-parenting-2-cara-cepat-menidurkan-anak-seberapa-baik-rapport-anda-dengan-anak/</link>
		<comments>http://indoparenting.wordpress.com/2008/02/10/nlp-for-parenting-2-cara-cepat-menidurkan-anak-seberapa-baik-rapport-anda-dengan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2008 11:09:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Neuro-Linguistic Programming]]></category>
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indoparenting.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Meiske baru saja tiba di rumah setelah berhasil menembus kemacetan yang terjadi di jalan masuk menuju kompleks perumahannya. Hujan lebat disertai angin ribut seminggu terakhir ini membuat waktu perjalanan pulang semakin tidak dapat diraba lamanya. “Bobby mungkin sudah tidur sekarang. Si Isah tadi jam 8.30 melaporkan Bobby sudah mulai mengisap-isap jempolnya,” batin Meiske sambil melihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=3&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Meiske baru saja tiba di rumah setelah berhasil menembus kemacetan yang terjadi di jalan masuk menuju kompleks perumahannya. Hujan lebat disertai angin ribut seminggu terakhir ini membuat waktu perjalanan pulang semakin tidak dapat diraba lamanya.</span></p>
<p><span>“Bobby mungkin sudah tidur sekarang. Si Isah tadi jam 8.30 melaporkan Bobby sudah mulai mengisap-isap jempolnya,” batin Meiske sambil melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 9 ketika turun dari Angkot.</span><span>“</span></p>
<p><span>Ingin rasanya berbincang-bincang dengan Mas Agung seperti awal-awal pernikahan sebelum kelahiran Bobby”. Berkecamuk pikiran Ibu satu anak ini sambil memikirkan bagaimana komunikasi dengan suaminya belakangan ini mulai kurang. </span></p>
<p><span>“Walaupun Mas Agung sering menelepon dari kantor tetapi rasanya tetap lain jika dapat menatap wajahnya”. Lamun Miske membuyar ketika membuka pintu depan rumah. “Loh, Bobby kok belum tidur, Sah?” tanya Miske.</span><span> </span><span>Melihat ibunya baru pulang Bobby langsung berlari mendekat seraya berteriak,”Mama… Mama… gidong… gidong…” Bobby memohon minta digendong. Rasa rindu setelah seharian tidak bertemu terlampiaskan ketika Meiske mengendong Bobby yang belum genap 1,5 tahun.</span></p>
<p>Sedetik kemudian Mas Agung muncul di depan pintu dalam keadaan kuyu. Kemacetan di jalanan memang sangat menguras energi. “Ma, Papa agak lelah hari ini. Pengennya istirahat lebih awal, ya”. Kata Agung sambil mengecup Meiske dan anaknya yang masih dalam gendongan istrinya. Kali ini Bobby mencoba mengapai-gapai ayahnya yang baru pulang. Tetapi karena ayahnya kurang memberikan respon, Bobby kembali memeluk ibunya dengan manja.</p>
<p>“Pa, jangan langsung tidur, ya. Sudah lama kita tidak berbincang-bincang seperti dulu. Tunggu Mama menidurkan Bobby dulu, yah”, pinta Meiske karena teringat kembali dengan rencana tadi. Anggukkan lemah Agung seperti memberi tanda kepada Miske untuk segera menidurkan Bobby secepat mungkin. Belum sejurus Meiske meninabobokan Bobby; anak ini malah memberontak dan memerosotkan diri dari gendongan Meiske. Sambil menarik-narik jempol mamanya, Bobby terus menerus berteriak,”Maen…. Maen…”</p>
<p>Apa jadinya dengan perasaan Meiske? Jika yang ingin didiskusikan ke suaminya adalah berita bahwa kantornya merencanakan pengurangan karyawan dan dia salah seorang yang dipanggil. Sementara suaminya sudah mendengkur dan anak bukannya tidur malah mengajak bermain walau malam telah larut?</p>
<p>Untunglah siang tadi Meiske mendapatkan telepon yang memberitahukan bahwa dia memenangkan hadiah mobil idaman dari sebuah Bank swasta dan seluruh pajaknya ditanggung oleh penyelenggara. Tetapi berapa banyak orang yang seberuntung Meiske?<br />
<span id="more-3"></span><br />
<strong>Apa itu Rapport?</strong></p>
<p>Apa yang ada dalam benak orang-orang jika Anda mengucapkan kata “Rapport”? Kebanyakan orang mungkin akan langsung terbayang gambar “Buku Raport”. Sebagian anak-anak tiba-tiba merinding karena teringat prestasi di sekolah yang tidak sesuai harapan orangtuanya. Bukan kata yang “itu”; yang dimaksudkan di sini.</p>
<p>Kata Rapport yang saya maksud adalah kwalitas dari sebuah hubungan komunikasi yang terjalin. Baik atau buruknya Rapport yang tercipta sangat menentukan seberapa cepat dan dalam sebuah pesan dapat dikirimkan.</p>
<p>Suatu ketika Anda berhadapan dengan dua orang wiraniaga dari sebuah perusahaan direct selling yang sama dan produk yang ditawarkan pun sama. Wiraniaga A sebelum mengemukakan maksudnya, berbasa basi dahulu mengenai keluarga Anda dan dengan sungguh-sungguh mendengarkan Anda. Lalu A hanya minta waktu 5 menit untuk menjelaskan produknya sebelum pamit.</p>
<p>Sedangkan wiraniaga B tanpa mendengarkan Anda, langsung sok tahu mengatakan bahwa Anda pasti membutuhkan produk yang dijualnya. Selama 1 jam dia terus menerus menceritakan kehebatan produk, tanpa sekalipun Anda diberi kesempatan untuk menyela. Walaupun Anda pada akhirnya tidak membeli dari apa pun dari mereka. Ketika suatu hari Anda membutuhkan produk tersebut, wiraniaga mana yang Anda hubungi? A atau B? Jika anda menjawab A, berarti A berhasil membangun Rapport.</p>
<p><strong>Tips :</strong> Pada tulisan terdahulu, sudah dijelaskan bahwa anak-anak selalu dalam keadaan Knowing Nothing State. Ini berarti juga anak-anak sangat jernih sekali membaca komunikasi non verbal Anda. Mereka dapat segera mengetahui maksud-maksud Anda walaupun tidak terucapkan. Jadi niatkan dahulu bahwa Anda sungguh-sungguh ingin memenuhi keinginan anak sebelum Anda memproyeksikan keinginan Anda. Jika anak ingin mengajak Anda bermain, bermainlah dengan sungguh-sungguh. Setelah Rapport terbentuk, anak Anda akan mudah diarahkan kepada keinginan Anda.</p>
<p>Sebelum saya dan isteri menyadari pentingnya Rapport. Beberapa kali kami saling bergantian membuai dengan gendongan. Setidaknya butuh lebih dari satu jam sebelum anak kami tertidur. Ketika kami berlatih membangun Rapport dengan anak; hanya membutuhkan waktu kurang dari 5 menit untuk hal yang sama.</p>
<p>Walaupun keterampilan membangun Rapport ini tidak berhubungan langsung dengan nasib dan peruntungan Anda, yang pasti; anak dan pasangan Anda akan merasa beruntung jika Anda menguasai keterampilan ini. Selamat berlatih!</p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong> Bagaimana cara anda selama ini menidurkan anak Anda?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indoparenting.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indoparenting.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indoparenting.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indoparenting.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indoparenting.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indoparenting.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indoparenting.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indoparenting.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indoparenting.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indoparenting.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indoparenting.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indoparenting.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indoparenting.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indoparenting.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indoparenting.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indoparenting.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=3&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indoparenting.wordpress.com/2008/02/10/nlp-for-parenting-2-cara-cepat-menidurkan-anak-seberapa-baik-rapport-anda-dengan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4dd5aadf3b0b69e8ca679c93f4011ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adi Putera W</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NLP for Parenting #1 State Anak-anak = Knowing Nothing State</title>
		<link>http://indoparenting.wordpress.com/2007/06/12/hello-world/</link>
		<comments>http://indoparenting.wordpress.com/2007/06/12/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jun 2007 10:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Putera Widjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Knowing Nothing State]]></category>
		<category><![CDATA[Neuro-Linguistic Programming]]></category>
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Susi curhat dengan temannya Sasa bagaimana anaknya susah sekali diatur. &#8220;Bayang ín, Sa. Mainan baru yang harganya begitu mahal sekarang bentuknya sudah tidak karuan lagi. Kemarin pajangan kesayangan papanya hancur karena Si Doni menarik taplak yang ada di bawah pajangan. Padahal saya sudah peringatkan untuk tidak menarik taplaknya. Eh, malah makin ditarik.&#8221; Karena sudah tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=1&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Susi curhat dengan temannya Sasa bagaimana anaknya susah sekali diatur. &#8220;Bayang ín, Sa. Mainan baru yang harganya begitu mahal sekarang bentuknya sudah tidak karuan lagi. Kemarin pajangan kesayangan papanya hancur karena Si Doni menarik taplak yang ada di bawah pajangan. Padahal saya sudah peringatkan untuk tidak menarik taplaknya. Eh, malah makin ditarik.&#8221;</p>
<p>Karena sudah tidak sabar, seringkali berakhir dengan kemarahan yang diikuti dengan pemukulan. Susi sebetulnya sama sekali tidak ada keinginan untuk marah apalagi memukul anaknya, tetapi entah mengapa kadang emosi lebih menguasai dirinya. Susi semakin tidak mengerti mengapa anaknya selalu mengacak-gacak dan merusak benda-benda di rumah padahal sudah diingatkan berkali-kali. Andai saja Susi mengerti “State” anak-anak, kejadian di atas mungkin dapat disikapi lebih baik.<br />
<span id="more-1"></span><br />
<strong>Apa itu State?</strong></p>
<p>Sebagian besar orang yang belum terbiasa dengan istilah-istilah dalam NLP dan Hypnosis sering sekali rancu dengan kata <em>“State”</em>. Masyarakat kebanyakan mengartikan sebagai negara bagian. Sedangkan kata <em>“State”</em> yang saya maksudkan tidak ada hubungannya dengan negara bagian manapun di muka bumi ini.</p>
<p>State dalam NLP adalah suatu keadaan di mana <strong>pikiran, perasaan</strong> dan <strong>fisiologi</strong> tubuh yang saling berhubungan membentuk kondisi dalam diri Anda. Misalnya, <em>state</em> Anda dalam keadaan bersemangat tentu akan berbeda sekali dengan <em>state</em> Anda ketika dalam keadaan frustasi. Mari kita kita lihat contoh perbedaannya.</p>
<p><strong>State Bersemangat</strong><br />
Pikirkan suatu kejadian di mana Anda mendapatkan keberhasilan, umumnya <strong>perasaan</strong> Anda akan senang, biasanya <strong>fisiologi</strong> tubuh Anda akan tegak dan gagah.</p>
<p><strong>State Frustasi</strong><br />
Pikirkan suatu kejadian di mana Anda menemui kegagalan, umumnya <strong>perasaan</strong> Anda akan sedih, tanpa disadari <strong>fisiologi</strong> tubuh Anda akan loyo dan cenderung agak bungkuk.</p>
<p><em><strong>State Anak-anak = Knowing Nothing State</strong></em></p>
<p>Menjelaskan keadaan <em>Knowing Nothing State</em> yang paling sederhana adalah dengan membandingkan state orangtua dengan state anak-anak. Mari kita bayangkan bersama dua buah adegan bermain bersama; katakanlah bermain alat musik gendang. Adegan pertama, orangtua yang bermain gendang dengan anaknya. Adegan kedua, anak yang bermain gendang dengan sesama anak-anak. Kira-kira mana yang lebih seru? Anak dengan orangtuanya? Ataukah anak dengan sesama anak-anak?</p>
<p>Anak-anak dapat menemukan cara bagaimana memainkan gendang lebih dari satu cara. Lebih dari sekedar alat musik. Sedangkan orangtua kecenderungannya menganggap gendang tidak lebih dari sebuah alat musik. Jadi cara memainkan hanya satu cara yaitu dengan memukul-mukul permukaannya.</p>
<p>Anak-anak selalu menganggap semua benda yang ada di sekitarnya adalah sesuatu yang sangat menarik untuk dipelajari. Cara untuk mempelajarinya adalah dengan “memainkannya”. Sehingga tidaklah mengherankan; anak-anak jika diberi mainan baru dalam waktu kurang dari satu hari sudah berubah bentuk menjadi beberapa “mainan baru”. Mengapa demikian? Karena anak menemukan banyak cara untuk memainkannya. Oleh orangtua; tindakan ini disamakan dengan “merusak”, sedangkan pada anak tindakan yang sama adalah “keingintahuan”. Alangkah indahnya jika pada orangtua; tindakan yang diartikan sebagai “merusak” tadi diganti menjadi “keingintahuan”, tentu Susi tidak perlu menjadi emosi lagi kan?</p>
<p><strong>Tips :</strong> Pahami bahwa state anak-anak adalah keadaan untuk belajar yang sempurna karena dalam pikiran mereka belum ada aturan-aturan; baik atau buruk, salah atau benar. Jadi jika anak sedang memegang benda-benda yang dapat membahayakan dirinya segera ganti dengan benda yang lebih aman, pindahkan ke tempat yang lebih aman dan biarkan dia tetap bermain.</p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong> Apa yang biasanya dilakukan oleh orangtua jika melihat anaknya bermain dengan gunting?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indoparenting.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indoparenting.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indoparenting.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indoparenting.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indoparenting.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indoparenting.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indoparenting.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indoparenting.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indoparenting.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indoparenting.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indoparenting.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indoparenting.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indoparenting.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indoparenting.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indoparenting.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indoparenting.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indoparenting.wordpress.com&amp;blog=1227267&amp;post=1&amp;subd=indoparenting&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indoparenting.wordpress.com/2007/06/12/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4dd5aadf3b0b69e8ca679c93f4011ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adi Putera W</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
